NUAITY NEWS, JAKARTA – PT Banka Permata Tbk (BNLI) angkat suara setelah Pengadilan Niaga Negeri Semarang memutuskan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritek pailit.
Sebagai informasi, Bank Permata merupakan salah satu kreditur perusahaan tekstil yang berbasis di Jawa Tengah. Sedangkan pada akhir September 2024, utang Sritek ke Bank Permata sekitar $37,9 juta atau setara Rp 596,18 miliar. (Asumsi nilai tukar Rp 15.730 terhadap dolar AS)
Melisa M. Rusli, Presiden Direktur Permata Bank, mengatakan Permata Bank, sebagai salah satu kreditor Sritek, akan melakukan segala upaya untuk melihat segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
“Permata Bank menghormati dan mengikuti perkembangan proses hukum yang sedang berjalan.” Termasuk informasi terkait pengajuan gugatan kasasi Sritek atas keputusan pembatalan homologasi terkait,” ujarnya kepada Bisnis, Senin. (28 Oktober 2024)
Seperti diketahui, para kreditur SRIL menghadapi ketidakpastian setelah Pengadilan Negeri Semarang Niaga menyatakan Sritek pailit. dan utang bank jangka panjang sebesar $809,99 juta.
Keputusan ini menyusul ditolaknya tuntutan penyelesaian yang diajukan oleh PT Indo Bharat Rayon terhadap Sritek dan anak perusahaannya PT Sinar Pantya Djaja, PT Bitratek Industries dan PT Primaiudha Mandiriyaya dengan alasan lalai dalam memenuhi kewajibannya menyusul perintah pailit, SRIL masih memiliki utang sebesar Rp101,3 miliar atau 0,38% dari total utang SRIL per 30 Juni 2024.
Dalam pengungkapannya di bursa, Velli Salam, CFO SRIL, perseroan masih memiliki utang Rp 101,3 miliar kepada Indo Bharat Raion.
“Saat ini Perseroan bersama PT Sinar Panta Djajaya, PT Primaiudha Mandirajaya dan PT Bitratek Industries [Sritek Group] telah menunjuk penasihat hukum dari firma hukum Aji Wijaya & Co, untuk mendampingi dan mewakili Sritek Group dalam proses hukum terkait kasus tersebut. penolakan Kasasi. keputusan untuk membalikkan kesamaan tersebut,” kata Veli Salam, Direktur Keuangan SRIL, kepada Bursa, Jumat, 10 Maret 2024.
Selain itu, SRIL masih mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 25,73 juta pada akhir Juni 2024. Manajemen SRIL menjelaskan, situasi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian material. Hal ini dapat menimbulkan keraguan serius terhadap upaya Sritek dalam menjaga kelangsungan usahanya.
Manajemen juga mengatakan, untuk mengatasi kondisi tersebut, Sritek memfokuskan upayanya pada peningkatan efisiensi penjualan dan biaya produksi. Dan langkah-langkah yang dilakukan seperti PHK bertahap pada tahun 2025, pengembangan produk yang bernilai tambah tinggi. Meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia serta efisiensi biaya
Lihat berita dan artikel lainnya di Google News dan VA Channel.
Leave a Reply